Kreativitas dalam Periklanan

Content-02

Mohammad Suyanto

Kreativitas adalah kemampuan untuk menyajikan gagasan atau ide baru. Sedangkan inovasi merupakan aplikasi dari gagasan atau ide baru tersebut. Kita semua sesungguhnya merupakan makhluk kreatif, tetapi karena kreativitas ini jarang dipraktekkan secara rutin , maka akhirnya kreativitas ini menjadi lumpuh, ibarat otot-otot seorang yang tidak pernah dilatih. Untuk menciptakan ide yang orisinil tidaklah mudah. Bahkan Voltai mengatakan bahwa “Orisinil itu tidak ada, yang ada adalah tiruan yang bijaksana”. Kreativitas hampir selalu di gunakan dalam periklanan, karena kreativitas dapat membantu periklanan dalam memberi informasi, membujuk, mengingatkan, meningkatkan nilai dan dapat “meledakkan” periklanan.

Sosiolog asal Jerman, Max Weber menentukan bahwa orang berfikir dengan menggunakan dua cara, yaitu cara berfikir obyektif, rasional, berdasarkan fakta dan cara berfikir kualitatif, intuitif, berdasarkan nilai. Sebagai contoh, ketika menjawab tes menggunakan gaya berfikir rasional dan berdasarkan fakta. Sedangkan ketika membeli mobil mencoba, menggunakan intuisi dan pengetahuan untuk membuat keputusan yang bernilai kualitatif dari feature, gaya dan kinerja mobil terhadap harga mobil. Kebanyakan teori berfikir sesuai dengan dua kategori umum, yaitu cara berfikir berdasarkan fakta dan cara berfikir berdasarkan nilai.

Jika pemasang iklan lebih menyukai  gaya berfikir berdasarkan fakta, maka akan mencari agen periklanan yang menghasilkan iklan yang  sederhana, langsung, rasional dan banyak menggunakan data. Printer Hewlett-Packard yang ditangani oleh agen periklanan Saatchi & Saatchi menggunakan pendekatan ini.   Demikian pula iklan Clear lebih menonjolkan fakta.

Tetapi jika tim kreatif lebih menyukai gaya berfikir berdasarkan nilai, cenderung  menghasilkan iklan yang lembut, halus, intuitif, emosional  dan kiasan.  Iklan Nike dan BMW menggunakan pendekatan ini.  Iklan Sunsilk Clean & Fresh dari PT. Unilever yang menampilkan wanita berkerudung dengan bintang iklan Inneke Koesherawati merupakan iklan dengan pendekatan berpikir berdasarkan nilai. Iklan ini menarik, dengan menampilkan sesuatu yang berbeda, yaitu tidak ada rambut yang ditampilkan, tidak seperti dengan iklan shampoo lainnya yang menampilkan model rambut indah berkilau. Terobosan yang cerdik ini membidik wanita berkerudung atau wanita yang rambutnya dalam keadaan tertutup, misalnya karyawan pabrik yang mengenakan tutup kepala yang selama ini tidak terlayani dengan baik. Iklan ini telah terbukti sukses di Malaysia dan diharapkan sukses pula di Indonesia. Meskipun demikian ada pula yang justru mengkombinasikan antara pendekatan keduanya.