KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, NO. 368/MEN.KES/SK/IV/1994 TENTANG PEDOMAN PERIKLANAN OBAT BEBAS, OBAT TRADISIONAL, ALAT KESEHATAN, KOSMETIKA, PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA MAKANAN DAN MINUMAN

PEDOMAN PERIKLANAN OBAT BEBAS

Petunjuk Teknis

Secara umum iklan obat harus mengacu pada “Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia”, tetapi khusus untuk hal-hal yang bersifat teknis media, maka penerapannya harus didasarkan pada pedoman ini.

A. Umum

Iklan obat dapat dimuat di media periklanan setelah rancangan iklan tersebut disetujui oleh Departemen Kesehatan RI.

6. Iklan obat tidak boleh mendorong penggunaan berlebihan dan penggunaan terus menerus.

7. Informasi mengenai produk obat dalam iklan harus sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam pasal 41 ayat (2) Undang-undang No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan sebagai berikut:

Objektif: harus memberikan informasi sesuai dengan kenyataan yang ada dan tidak boleh menyimpang dari sifat kemanfaatannya dan keamanan obat yang telah disetujui

Lengkap: harus mencantumkan tidak hanya informasi tentang khasiat obat, tetapi juga memberikan informasi tentang hal-hal yang harus diperhatikan, misalnya adanya kontra indikasi dan efek samping.

Tidak menyesatkan: informasi obat harus jujur, akurat, bertanggung jawab serta tidak boleh memanfaatkan kekuatiran masyarakat akan suatu masalah kesehatan. Disamping itu, cara penyajian informasi harus berselera baik dan pantas serta tidak boleh menimbulkan persepsi khusus di masyarakat yang mengakibatkan penggunaan obat berlebihan dan tidak berdasarkan kebutuhan.

8. Iklan obat tidak boleh ditujukan untuk khalayak anak-anak atau menampilkan anak-anak tanpa adanya supervisi orang dewasa atau memakai narasi suara anak-anak yang menganjurkan penggunaan obat. Iklan obat tidak boleh menggambarkan bahwa keputusan penggunaan obat diambil oleh anak – anak

9. Iklan obat tidak diperankan oleh tenaga profesi kesehatan atau aktor yang berperan sebagai profesi kesehatan atau menggunakan “setting” yang beratribut profesi kesehatan dan laboratorium.

10. Iklan obat tidak boleh memberikan pernyataan superlatif, komparatif tentang indikasi, kegunaan/manfaat obat.

11. Iklan obat tidak boleh:

– Memberikan anjuran dengan mengacu pada pernyataan profesi kesehatan mengenai khasiat, keamanan dan mutu obat (misalnya, “Dokter saya merekomendasiā€¦”)

– Memberikan anjuran mengenai khasiat, keamanan dan mutu obat yang dilakukan berlebihan.

12. Iklan obat harus memuat anjuran untuk mencari informasi yang tepat kepada profesi kesehatan mengenai kondisi kesehatan tertentu.

13. Iklan obat tidak boleh menunjukkan efek/kerja obat segera sesudah penggunaan obat.

14. Iklan obat tidak boleh menawarkan hadiah ataupun memberikan pernyataan garansi tentang indikasi, kegunaan/manfaat obat.

15. Iklan obat harus mencantumkan spot peringatan perhatian sebagai berikut:

BACA ATURAN PAKAI

JIKA SAKIT BERLANJUT

HUBUNGI DOKTER

Kecuali untuk iklan vitamin, spot peringatan perhatian sebagai berikut:

BACA ATURAN PAKAI

16. Ketentuan minimum yang harus dipenuhi oleh spot peringatan dalam butir (15) adalah sebagai berikut:

16.3 Untuk media Cetak: Spot dicantumkan dengan ketentuan sebagai berikut:

BACA ATURAN PAKAI

JIKA SAKIT BERLANJUT

HUBUNGI DOKTER

BACA ATURAN PAKAI

JIKA SAKIT BERLANJUT

HUBUNGI DOKTER

Jenis Huruf (font) : Helvetica, Medium

Ukuran Huruf : 18 pts

Jarak Baris (leading) : 18 (100%)

Jarak Kata (letter spacing) : Normal (100%)

Jarak Huruf (word spacing) : Normal (100%)

BACA ATURAN PAKAI

BACA ATURAN PAKAI

Jenis Huruf : Helvetica, Medium

Ukuran Huruf : 18 pts

Jarak Baris (leading) : 18 (100%), Profesional

Jarak Kata (letter spacing) : Normal (100%)

Jarak Huruf (word spacing) : Normal (100%)

Ukuran kotak spot tersebut harus dibuat proporsional (antara spot dan halaman iklan). Sehingga spot tersebut terlihat mencolok.

17. Iklan obat harus mencantumkan informasi mengenai:

17.1. Komposisi zat aktif obat dengan nama INN (khusus untuk media cetak); untuk media lain. Apabila ingin menyebutkan komposisi zat aktif, harus dengan nama INN.

17.2. Indikasi utama obat dan informasi mengenai keamanan obat.

17.3. Nama dagang obat.

17.4. Nama industri farmasi.

17.5. Nomor pendaftaran (khusus untuk media cetak)

PEDOMAN PERIKLANAN OBAT TRADISIONAL

Iklan obat tradisional tidak boleh menggunakan kata-kata: super, ultra, istimewa, top, tokcer, cespleng, manjur dan kata-kata lain yang semakna yang menyatakan khasiat dan kegunaan berlebihan atau memberi janji bahwa obat tradisional tersebut pasti menyembuhkan.
Iklan obat tradisional tidak boleh memuat pernyataan kesembuhan dari seseorang, anjuran, atau rekomendasi dari profesi kesehatan, peneliti, sesepuh, pakar, panutan, dan lain sebagainya.
Iklan obat tradisional tidak boleh menampilkan adegan, gambar, tanda, tulisan dan atau suara dan lainnya yang dianggap kurang sopan.
Iklan yang berwujud artikel yang menguraikan tentang hasil penelitian harus benar-benar berkaitan secara langsung dengan bahan baku (simplisia) atau produknya, dan informasi tersebut harus mengacu pada hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawakan.
Pada setiap iklan obat tradisional dicantumkan identitas kata “JAMU” dalam lingkaran.
Pada setiap akhir iklan obat tradisional harus mencantumkan spot peringatan sebagai berikut:

BACA ATURAN PAKAI

Ketentuan minimal yang harus dipenuhi untuk peringatan pada butir (13) sebagai berikut:
14.3 Untuk media cetak, spot iklan dicantumkan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Tulisan harus jelas terbaca dan terlihat menyolok.

b. Huruf yang digunakan harus merupakan huruf kepital, hitam dan teba (bold letter)

c. Ukuran huruf minimal harus sama dengan huruf ‘body copy’

Diberi kotak tepi hitam.
Iklan obat tradisional khusus untuk media cetak harus mencantumkan nomor pendaftaran.
Dilarang mengiklankan obat tradisional yang dinyatakan berkhasiat untuk mengobati atau mencegah penyakit kanker, tuberculosis, poliomelitis, penyakit kelamin, impotensi, thypus, kolera, tekanan darah tinggi, diabetes, lever dan penyakit lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.

PEDOMAN PERIKLANAN MAKANAN DAN MINUMAN

Iklan makanan yang dibuat dengan bahan alami tertentu hanya boleh diiklankan sebagai berasal dari bahan alami tersebut, apabila makanan itu mengandung bahan alami yang bersangkutan tidak kurang dari kadar makanan yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
Contoh : Sari Apel; Apel Juice

a. Adalah produk cair yang keruh atau jernih yang diperoleh dari buah apel.

b. Padatan, jumlah tidak kurang dari 10%

Iklan makanan yang menyerupai atau dimaksud sebagai pengganti jenis makanan tertentu harus menyebutkan nama bahan yang digunakan.
Contoh : Susu Kedelai

Iklan makanan boleh mencantumkan pernyataan ā€¯DIPERKAYA” atau “KAYA” sumber vitamin dan mineral bila pada sejumlah makanan yang biasa dikonsumsi satu hari terdapat paling sedikit dari jumlah yang dianjurkan (RDA/AKG).

Pernyataan makanan berkalori dapat diiklankan bila makanan tersebut dapat memberikan minimum 300 Kcal per hari.
Iklan makanan tidak boleh dimuat dengan ilustrasi peragaan maupun kata-kata berlebihan, sehingga dapat menyesatkan konsumen.
Iklan makanan tidak boleh menjurus kependapat bahwa makanan yang bersangkutan berkhasiat sebagai obat.
Makanan yang dibuat sebagian atau tanpa bahan pokok alami tidak boleh diiklankan seolah-olah makanan yang bersangkutan seluruhnya dibuat dari bahan alami.
Makanan yang dibuat dari bahan yang telah mengalami pengolahan, tidak boleh diiklankan dengan cara yang dapat memberi kesan seolah-olah makanan itu dibuat dari bahan yang segar.
Iklan makanan tidak boleh dengan sengaja menyatakan seolah-olah makanan yang berlabel gizi mempunyai kelebihan dari makanan yang tidak berlabel gizi.
Iklan makanan tidak boleh memuat pernyataan nilai khusus pada makanan apabila nilai tersebut tidak seluruhnya berasal dari makanan tersebut, tetapi sebagian diberikan oleh makanan lain yang dapat dikonsumsi bersama-sama (seperti nilai kalori pada makanan serealia untuk sarapan yang biasanya dimakan dengan susu dan gula).
Iklan makanan tidak boleh menyatakan bahwa makanan seolah-olah merupakan sumber protein, kecuali 20% kandungan sumber protein dan atau kecuali jumlah yang wajar dikonsumsi perhari mengandung tidak kurang 10 gram protein.