Ati Muchtar, Berpikir Kreatif Ala Periklanan

Budaya kerja di industri periklanan (advertising) menjadi strategi Ati Muchtar dalam memimpin PT Fortune Pramana Rancang. Salah satunya dengan berpikir yang tidak biasa (out of the box) untuk merebut peluang bisnis kehumasan (public relations/PR) yang masih sangat besar.

 

Berpikir out of the box, liar, seperti orang-orang kreatif di bisnis advertising. Budaya ini yang akan saya terapkan di perusahaan,” kata Ati, Managing Director PT Fortune Pramana Rancang (Fortune PR) kepada Investor Daily di kantornya kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, pertengahan Januari 2014.

 

Dia menjelaskan, dunia kerja kini, tak terkecuali PR, juga membutuhkan hal-hal yang kreatif dan tak biasa. “Ambil contoh di iklan, kata-kata yang liar, beda, akan mudah diingat masyarakat. Hal seperti itu juga bisa diterapkan di PR, misalnya untuk isi siaran pers agar bisa diingat dan menjadi inspirasi tulisan bagi media,” ujar Ati, yang mulai menjabat sejak 1 Desember 2013, menggantikan Indira Abidin yang kini menjabat president director.

 

Tak hanya ‘liar’ dalam berkata-kata, brain storming juga merupakan budaya yang ia terapkan sejak 1,5 bulan ia menjabat. “Awalnya saya stres menjabat ini. Siapa yang tak tahu kepiawaian Miranty Abidin pendiri Fortune dan Indira Abidin di dunia PR? Akhirnya, saya gali kelebihan saya yang banyak bekerja di industri advertising dan brain storming. Budaya yang biasa dilakukan di advertising saya terapkan di sini,” tutur lulusan International University of Europe School of Business, Watford, London ini.

 

Sebelum tercebur di industri PR, Ati memang telah malang-melintang di industri advertising. Kiprahnya di advertisingdimulai di Fortune Indonesia pada 2003 dengan menjabat business director. Kemudian, dia melompat ke Hotline Advertising pada 2006 dengan jabatan sama. Selanjutnya, dia menjabat Client Service Director Flying Giraffe tahun 2010.

 

Ati pun sangat yakin, pengalamannya bekerja di advertising akan memperkaya gagasan ketika memimpin perusahaan PR. “Saya melihat, meski PR adalah konsultan, tapi account services dan kreativitas yang kuat di advertising bisa dimasukkan ke ranah PR,” ujar perempuan kelahiran tahun 1965 ini.

 

Dengan strategi-strategi tersebut, dia yakin bisa merebut ‘kue pendapatan’ dan mempertahankan posisi Fortune PR yang masuk dalam jajaran top of mind sejak delapan tahun belakangan. Apalagi, menurutnya, peluang bisnis di industri PR masih besar.

 

Pertama, karena era advertising sudah mulai turun seiring placement iklan semakin mahal. Akhirnya, orang melihat wadah yang lain untuk promosi, yaitu PR. Kedua, perusahaan-perusahaan, baik besar maupun kecil, kini mulai berpikir penting untuk melakukan komunikasi.

 

“Ketiga, perusahaan-perusahaan, terutama mining, diwajibkan untuk melakukan usaha yang berkelanjutan (sustainability), bertanggung jawab kepada lingkungan. Nah, bagaimana masyarakat tahu mereka melakukan itu kalau tidak melakukan komunikasi,” ucapnya.

 

Tahun 2014 yang panas karena politik pun justru dilihat Ati sebagai peluang pasar. Pasalnya, banyak partai politik, calon presiden, dan wakil presiden, serta calon anggota legislatif butuh melakukan komunikasi yang baik kepada konstituennya.

 

“Tapi secara umum, di 2014, saya menargetkan pertumbuhan yang tak terlalu besar. Fortune juga tak akan investasi karena tahun 2013 baru saja membuka kantor cabang di Singapura,” ungkap Ati, yang hobi memasak bersama suaminya bila sedang santai di rumah.

 

Masak Perekat Keluarga

Berbincang soal hobinya, Ati bercerita, Sabtu pagi merupakan hari yang selalu dinantinya karena tak sabar ingin memasak menu baru atau menu favorit keluarganya. “Sabtu pagi, biasanya kami mulai dengan menetapkan menu apa yang mau dimasak. Terus, kami masak bersama-sama,” cerita Ati, bersemangat.

 

Menu favorit Ati, suami, dan putranya bernama Egg Benedict. Menu tersebut mereka dapat dari saluran TV. “Ternyata masaknya gak segampang di TV. Berkalikali kami juga gagal mencoba menu baru. Tapi kalau sudah berhasil membuat yang benar-benar enak, anak-anak senang sekali dan meminta saya dan suami mencoba menu baru lainnya,” tutur Ati tertawa.

 

Hobi masak diakui Ati menjadi perekat hubungan ia dan keluarganya. “Dengan memasak dan makan bersama, ada kebersamaan. Melihat ekspresi anak-anak saat makan kalau memang kebetulan masakan yang kami masak enak, itu tak terbayarkan,” tandas Ati.

 

Tak cuma hobi memasak, Ati bersama suaminya juga gemar menjajal belanja di berbagai pasar. “Kalau belanja sayur dan lauk, kami bisa sampai ke Serpong, Cuma ingin tahu pasar-pasar modern di Jabodetabek,” kata Ati yang tinggal di kawasan Warung Sila, Ciganjur, Jakarta Selatan.

 

Sumber Berita : www.investor.co.id (Jumat, 24 Januari 2014)